Sinetron Kepompong Tayang Kembali

sinetron-kepompong
KEPOMPONG Mewakili Remaja Masa Kini
Suatu sore, akhir November 2008, Annisa, siswi kelas 3 sebuah SMA di Jakarta, buru-buru pulang sekolah. Sesampainya di rumah, ia berganti baju dan bergegas menyalakan TV. Ditemani adiknya, Julia, siswi kelas 3 SMP, Annisa menunggu kehadiran sinetron Kepompong di layar SCTV. Annisa penasaran mendengar cerita teman-teman di sekolahnya, kalau Kepompong beda dari sinetron kebanyakan. Awalnya, Annisa tidak percaya. Tapi, setelah menonton Kepompong utuh satu jam, dari pukul 16.30-17.30 WIB, Annisa pun berubah pendapat.

“Ternyata, ada juga sinetron untuk remaja. Apalagi ceritanya benar-benar ringan, lucu, menarik, dan sesuai dengan keseharian kami (remaja),” cetus Annisa diangguki Julia.
Sejak itu, Annisa dan Julia tak pernah melewatkan Kepompong satu episode pun. Apa yang dialami Annisa, bukan tidak mungkin dialami juga remaja yang haus akan sinetron yang menghibur, mendidik, tidak menggurui, dan realistis. Enggak heran sinetron stripping perdana rumah produksi Frame Ritz ini, sejak tayang pertama kali pada 17 November, semakin hari kian diminati penonton remaja. Pun rating dan share-nya stabil.

“Ajaibnya, Kepompong enggak kalah dengan program lain yang tayang prime time. Bahkan, (share) hampir sama dengan Cinta Fitri 3. Berhadapan dengan semua program di jam yang sama, Kepompong pasti lead,” kata Sentot Sahid, bos Frame Ritz.
“Sebetulnya di slot jam itu, yang tebal dengan penonton dari semua kalangan, dibutuhkan tontonan menghibur dengan tema keluarga. Sementara TV lain lebih mengangkat tema dewasa,” ungkap Budi Sutjiawan, Direktur Program SCTV, yang berani mengklaim SCTV selalu menciptakan tren baru dalam industri pertelevisian.

Kepompong menitikberatkan kisah persahabatan empat cewek dan satu cowok yang tergabung dalam kelompok De’Rainbow. Boleh dibilang mereka mewakili karakter remaja masa kini yang ceria, gaul, optimistis, dan positif. Sejak kecil mereka berteman karena tinggal di satu kompleks perumahan dan lahir di rumah sakit yang sama. Setiap episodenya menyuguhkan permasalahan berbeda-beda, disertai penyelesaiannya yang digambarkan secara ringan, namun tetap menonjolkan sikap saling menghargai, kerja sama, dan memberi dukungan, agar dapat dijadikan contoh.
Seperti sinetron stripping lainnya, Kepompong dikerjakan dua tim, yang terdiri dari sekitar 40 kru dengan menggunakan tiga kamera.

“Penggarapannya seperti reality show, menggunakan kamera handheld. Ya, kami membuat lebih simpel, tapi tetap bagus dan efektif. Bahkan, banyak yang memuji kualitas gambar Kepompong bagus,” kata Sentot bangga. Sentot juga tidak memungkiri, sukses Kepompong tidak terlepas dari lagu “Kepompong” milik Sind3ntosca, yang menjadi soundtrack sekaligus inspirasi dalam memilih judul sinetron.
“Tadinya ada tiga lagu yang jadi nominasi. Akhirnya, setelah disesuaikan dengan karakter ceritanya, terpilihlah 'Kepompong',” cerita Sentot.
“Banyak yang kirim e-mail untuk mengucapkan terima kasih kepada Frame Ritz dan SCTV karena sudah mau mengangkat nilai-nilai persahabatan dalam sinetron. Bahkan, ada anak-anak kecil yang terinspirasi bikin persahabatan seperti itu,” katanya bangga.
Biar cerita-cerita selanjutnya tidak membosankan dan tersaji apik, ia berjanji akan selalu mengakomodir setiap masukan. Masih banyak hal yang bisa digali dari dunia remaja dan dapat  ijadikan pembelajaran.
“Kepenginnya sih ada season begitu kayak Cinta Fitri. Bukannya dipanjang-panjangkan, cuma pengin program ini abadi. Tapi sampai sekarang masih dibicarakan bersama SCTV,” terang Sentot.

Sinopsis Global
Bebi (Dinda), Indra (Derby), Tasya (Mikha), Chacha (Aryani), dan Helen (Tania), yang tergabung dalam kelompok beken De' Rainbow di SMU Bintang, sejak kecil berteman baik. Sesuai slogan mereka, bold, intelligent, tough, cute, dan humble, mereka punya kepercayaan diri tinggi, kompak, dan menghargai perbedaan latar belakang di antara mereka. Persis seperti arti nama geng mereka, pelangi, yang indah karena terdiri dari berbagai warna.

Namun persahabatan mereka tak selalu mulus. Bebi yang modis susah dapat pacar, lantaran banyak cowok yang mundur teratur setelah melihat perfeksionisme Bebi dan gila-gilaannya dia kalau belanja.
Sementara, Chacha yang santai, perhatian, dan baik justru kelabakan menolak cowok. Tasya yang feminin dan pendiam belum pernah merasakan jatuh cinta. Hingga kebingungan saat Aldi (kakak Helen) mengungkapkan rasa suka. Sedangkan Helen yang serius dan kutu buku selalu memandang cinta dari sisi ilmiah dan filosofis. Indra sering dikira gay. Bukan hanya soal sekolah dan pacar yang mereka hadapi, tapi juga keluarga dan masalah sosial di sekitar mereka yang bersinggungan dengan dunia remaja. Persahabatan mereka kerap terancam bubar akibat ulah seorang teman sekolah, Claudia.